Tradisi Lebaran: Sejarah dan Keunikan Kue Kering Klasik di Indonesia yang Wajib Dicoba

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:06:45 WIB
Tradisi Lebaran: Sejarah dan Keunikan Kue Kering Klasik di Indonesia yang Wajib Dicoba

JAKARTA - Kue kering klasik menjadi hidangan wajib di meja tamu saat perayaan Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini berkembang seiring kuatnya budaya silaturahmi dan open house sejak masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Kajian sejarah kuliner menunjukkan bahwa praktik baking di Indonesia tidak lepas dari pengaruh Eropa, terutama Belanda. Adaptasi resep kolonial kemudian menggunakan bahan lokal Nusantara untuk menciptakan citarasa khas Indonesia.

Asal-usul dan Proses Akulturasi

Meskipun tidak semua kue memiliki catatan sejarah tertulis, kemiripan bentuk, nama, dan teknik menunjukkan adanya akulturasi budaya. Sejarawan Fadly Rahman menjelaskan bahwa industri gula, tepung terigu, dan mentega abad ke-19 mendorong tradisi baking di Hindia Belanda.

Sri Owen juga mencatat pengaruh dapur kolonial dalam membentuk kuliner Indonesia modern. Banyak hidangan lahir dari adaptasi resep kolonial dengan bahan lokal, sebagaimana dijelaskan Petty Pandean-Elliott dalam kajiannya.

Nastar: Adaptasi Tart Nanas Belanda

Nastar diyakini berasal dari gabungan kata Belanda ananas dan taart. Kue ini mirip pineapple tart Eropa yang kemudian disesuaikan menjadi nastar kecil dengan selai nanas khas Nusantara.

Penggunaan selai nanas sebagai isian menunjukkan kreativitas lokal. Kue ini kini menjadi simbol Lebaran yang manis dan mudah diterima semua kalangan.

Kastengel: Warisan Kaasstengels Eropa

Kastengel berasal dari kata Belanda kaasstengels, yang berarti batang keju. Bentuk dan bahan dasarnya mirip dengan kue keju Eropa populer abad ke-19.

Sri Owen mencatat bahwa resep berbasis mentega dan keju menyebar luas di Hindia Belanda melalui rumah tangga kolonial. Kastengel menjadi adaptasi lokal yang tahan lama dan cocok disajikan saat Lebaran.

Putri Salju: Jejak Vanillekipferl Eropa Tengah

Putri salju mirip Vanillekipferl, kue mentega berbentuk bulan sabit dengan gula bubuk. Versi Indonesia menyesuaikan nama dan ukuran agar sesuai dengan selera lokal.

Kue ini menunjukkan bagaimana inspirasi Eropa bisa berubah menjadi ikon kuliner Indonesia. Kehadiran gula bubuk menambah sentuhan manis yang lembut di lidah.

Lidah Kucing: Adaptasi Kattentongen Belanda

Lidah kucing memiliki bentuk tipis memanjang seperti kattentongen atau cat’s tongue cookies. Teknik memanggang adonan tipis ini populer di lingkungan Indo-Eropa awal abad ke-20.

Resep menyebar dan menjadi bagian dari tradisi Lebaran. Tekstur renyahnya membuat lidah kucing digemari semua usia.

Sagu Keju: Perpaduan Lokal dan Kolonial

Sagu keju menggunakan tepung sagu lokal dipadukan teknik baking kolonial. Hal ini menunjukkan proses lokalisasi bahan dan teknik dari Eropa.

Fadly Rahman menjelaskan bahwa akulturasi kuliner sering melalui penggabungan teknik Eropa dengan bahan lokal. Hasilnya adalah kue dengan rasa unik dan tekstur khas Indonesia.

Kue Semprit: Adaptasi Butter Cookies

Kue semprit menyerupai butter cookies Eropa yang dicetak menggunakan spuit. Teknik ini dikenal luas di Hindia Belanda sejak abad ke-19.

Versi Indonesia menambahkan selai atau hiasan manis sebagai variasi. Hal ini menunjukkan kreativitas lokal sekaligus mempertahankan tradisi baking kolonial.

Kacang Telur: Akulturasi Tionghoa-Peranakan

Kacang telur berbasis teknik penggorengan, bukan oven. Teknik membalut kacang dengan adonan tepung sudah dikenal dalam tradisi kuliner Asia.

Di Indonesia, kacang telur menjadi camilan Lebaran praktis dan mudah diproduksi. Daya simpan yang lama membuatnya cocok untuk suguhan yang bisa dibagi ke banyak tamu.

Makna Budaya Kue Kering Lebaran

Menyajikan kue kering saat Lebaran bukan sekadar soal rasa. Tradisi ini melambangkan keramahan dan keterbukaan rumah bagi tamu yang berkunjung.

Jejak pengaruh Eropa, Tionghoa, dan bahan lokal Nusantara menunjukkan proses akulturasi panjang. Kue kering klasik Lebaran kini menjadi identitas kuliner Idulfitri di Indonesia.

Tradisi ini juga menjadi sarana melestarikan sejarah kuliner bagi generasi muda. Setiap kue menyimpan cerita tentang proses adaptasi, kreativitas lokal, dan pertukaran budaya.

Dengan memahami asal-usulnya, masyarakat dapat menghargai kue kering bukan hanya sebagai makanan manis, tetapi juga sebagai warisan budaya. Kombinasi bahan, teknik, dan makna sosial menjadikan kue kering Lebaran unik di dunia.

Informasi ini dirangkum melalui kajian sejarah kuliner dan pernyataan para sejarawan pada Senin, 23 Februari 2026. Pengetahuan tersebut menegaskan bahwa setiap kue kering Lebaran memiliki nilai sejarah dan budaya yang patut diapresiasi.

Terkini