RIAU — Koreksi rupiah di pasar NDF ini terjadi di tengah sikap defensif mata uang Asia lainnya. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa pagi, mayoritas mata uang kawasan hanya mampu mencatat penguatan tipis: yen Jepang naik 0,06%, won Korea Selatan menguat 0,05%, serta ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing terapresiasi 0,02%.
Situasi ini kontras dengan penutupan pekan lalu ketika rupiah di pasar spot berhasil menguat. Namun, minimnya katalis domestik pada hari pertama perdagangan pekan ini membuat laju penguatan lanjutan sulit terjadi. Pelaku pasar tampak memilih wait and see sambil mencermati pergerakan harga komoditas energi.
Kenaikan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Baru
Pemicu utama pelemahan rupiah pagi ini adalah lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang menembus level US$90,87/barel. Kenaikan ini dipicu oleh meredupnya prospek penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang kesepakatan yang telah habis masa berlakunya dengan Teheran.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tersebut langsung menggiring pasar pada kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki implikasi ganda: di satu sisi menguntungkan penerimaan negara dari ekspor komoditas, namun di sisi lain meningkatkan beban impor energi dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
Bagaimana Pergerakan Rupiah di Pasar Offshore?
Pergerakan rupiah di pasar NDF pagi ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Berikut rincian pergerakannya:
- Pembukaan sesi perdagangan di pasar offshore: stagnan di level Rp17.866/US$
- Pelemahan terjadi pada pukul 07.08 WIB: rupiah offshore menyentuh Rp17.909/US$
- Koreksi tipis terjadi tak lama berselang: rupiah di luar negeri kembali ke posisi Rp17.875/US$
Level Rp17.909/US$ menjadi titik terlemah rupiah di pasar NDF pada pagi ini, mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi. Pergerakan ini menjadi sinyal awal bagi perdagangan rupiah di pasar spot yang akan dibuka beberapa jam lagi.
Sentimen Eksternal Mendominasi, Katalis Domestik Minim
Dengan tidak adanya rilis data ekonomi domestik yang signifikan pada hari ini, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada sentimen eksternal. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada perkembangan harga minyak dan eskalasi ketegangan geopolitik AS-Iran yang berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Kondisi ini membuat rupiah berada dalam posisi yang rentan terhadap tekanan capital outflow. Investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang ketika ketidakpastian global meningkat. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah di pasar spot akan mengikuti pelemahan yang terjadi di pasar NDF.
Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan harga minyak dunia dan pernyataan resmi dari pemerintah AS terkait kebijakan luar negerinya terhadap Iran. Kedua faktor tersebut diprediksi menjadi penentu arah pergerakan rupiah sepanjang hari ini. Investasi mengandung risiko.