HSBC Ingatkan 3 Sinyal Mirip 1997 di Balik Imbal Hasil Obligasi AS

Rabu, 02 September 2026 | 09:59:31 WIB
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bertengger di kisaran 4,79%, melonjak dari titik terendah 0,5% pada Agustus 2020.

KANALEKONOMI.ID — Pergerakan imbal hasil obligasi acuan AS memang menjadi sorotan utama. Pada awal pekan ini, yield Treasury tenor 10 tahun bertengger di kisaran 4,79%, melonjak signifikan dari titik terendah 0,5% pada Agustus 2020, demikian tertulis dalam catatan Neumann tertanggal 31 Agustus yang dikutip CNBC International, Rabu (2/9/2028).

"Memang, proses itu memakan waktu enam tahun. Namun tahun ini saja, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari angka 3,9% pada bulan Februari," tegas Neumann.

Untuk meredam gejolak, Departemen Keuangan AS berencana memperbesar operasi pembelian kembali (buyback) obligasi. Target segmen pasar tenor 10-30 tahun akan menggenjot ukuran maksimum operasi dari US$2 miliar menjadi "setidaknya" US$4 miliar.

Tiga Ciri yang Kini Mirip dengan 1997

Neumann mengidentifikasi tiga sinyal yang mengingatkan pada periode sebelum krisis 1997, dimulai dari lonjakan yield obligasi AS. Kala itu, yield Treasury 10 tahun naik dari 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994, sebelum akhirnya berada di kisaran 7% pada April 1997—masih sekitar 200 basis poin lebih tinggi dibanding posisinya empat tahun sebelumnya.

Sinyal kedua datang dari pelemahan yen Jepang. Pada April 1995, yen berada di level 80 terhadap dolar AS, lalu terdepresiasi ke 130 pada April 1997 atau melemah sekitar 55%.

Kini, pola serupa terjadi. Yen telah melemah 57% dari titik terendah 103 pada Januari 2021 ke level tertinggi 163 pada Juli, sebelum intervensi gabungan Washington dan Tokyo yang jarang terjadi menahan lajunya ke kisaran 160. Pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan intervensi lanjutan.

Ketiga, euforia teknologi. Menjelang 1997, optimisme muncul seiring menjamurnya internet. Saat ini, gelombang kecerdasan buatan atau AI memicu optimisme serupa di pasar global.

Bedanya: Asia Kini Bukan Lagi Importir Modal

Neumann memberi catatan penting di balik kekhawatiran tersebut: perbedaan situasi 1997 dan 2026 jauh lebih besar daripada persamaannya. Fondasi ekonomi Asia kini berubah total.

"Sebagian besar ekonomi Asia merupakan importir modal pada tahun 1990-an. Mereka menerima lebih banyak investasi dari luar negeri dibandingkan investasi yang mereka tanamkan di luar negeri, serta memiliki tingkat tabungan yang tidak memadai untuk memenuhi komitmen pengeluaran mereka," jelas Neumann.

Kala itu, kenaikan biaya pendanaan dalam dolar AS dan yen yang tidak stabil menjadi katalis utama tekanan di kawasan. Saat ini, Asia justru menjelma menjadi eksportir modal sehingga tingginya biaya pendanaan AS dan melemahnya yen bukan lagi faktor penekan utama.

"Kerentanan Permintaan" Gantikan Kerentanan Finansial

Kendati demikian, Asia tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Neumann memperingatkan bahwa masalah paling relevan kini bergeser pada ketergantungan kawasan terhadap lonjakan perangkat keras AI di Amerika Serikat.

"Ekspor barang elektronik yang terkait dengan lonjakan AI telah menopang pertumbuhan di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura," catatnya.

Jika kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan AS menghambat investasi di sektor AI, atau yen kembali mengguncang pasar pendanaan global, permintaan terhadap produk-produk Asia bisa merosot tajam. "Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," ujar Neumann. Pertumbuhan ekonomi kawasan pun berpotensi melambat drastis.

Investasi mengandung risiko.

Tags

Terkini